Friday, 23 December 2016

PENGERTIAN TOLERANSI


Sering kali kita mendengar kata toleransi, baik di berita televisi, media online atau bahkan media sosial seperti facebook dan twitter. Sebenarnya sudah sejak lama pembahasan mengenai toleransi ini muncul di Indonesia. Seperti yang kita ketahui Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki beragam suku dan agama atau sering dikatakan oleh para cendekiawan sebagai pluralisme.

Ketika kita membicarakan pluralisme maka dalam hubungan masyarakatnya pasti akan kita jumpai pula sebuah sikap toleransi, sikap inilah yang menjadikan Indonesia dapat berdiri walaupun memiliki banyak suku dan agama. Slogan yang menjadi Landasan dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Namun tidak dipungkiri akhir akhir ini slogan bhineka tunggal seolah sedang terusik, banyak yang berkomentar mengenai ini, baik dari kalangan masyarakat umum ataupun para pengamat dan ahli. Namun sampai sekarang masih saja pembahasan ini seolah mbulet dan tak tau kesimpulanya bagaimana, bahkan sering kali pembahasan itu bukan menjadi solusi tapi justru menimbulkan masalah baru dimana masing-masing pihak merasa paling benar untuk memaknai apa itu toleransi.

Dari persoalan diataslah seolah saya sebagai salah seorang yang tinggal dan berkedudukan sebagai warga negara indonesia merasa terpancing ingin memahami dan mengerti bagaimana sebuah toleransi itu harusnya berjalan atau minimal saya tahu apa itu toleransi bukan dari mulut ke mulut atau pendapat masing-masing pribadi akan tetapi dari sebuah studi pustaka yang saya lakukan sendiri. Menurut saya semua harus dibahas dari makna sesungguhnya baru kemudian kita implementasikan dalam konteks yang kita inginkan. Semoga apa yang akan saya jelaskan ini juga dapat menjawab dan memberikan pemahaman bagi setiap pembaca. Amiiin.


Dalam Pembahasan ini saya akan mencoba memberikan referensi apa itu toleransi dari berbagai sumber.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia toleransi bermakna sebagai berikut : 


toleran/to·le·ran/ a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.


toleransi/to·le·ran·si/ n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja;

bertoleransi/ber·to·le·ran·si/ v bersikap toleran: sifat fanatik dan tidak ~ menjadi penghambat perundingan ini;

menoleransi/me·no·le·ran·si/ v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yang menggunakan dana pembangunan dengan dalih berbelit-belit


Toleransi diartikan menurut bahasa dan istilah :

Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Secara etimologis istilah “tolerantia” dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada Revolusi Perancis. Hal itu terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti Revolusi Perancis. 

Dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Sedangkan dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan.

Kemudian dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan toleransi dengan kelapangdadaan, dalam artian suka kepada siapa pun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirian lain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan berkeyakinan orang lain. Sedangkan dalam pandangan para ahli, toleransi mempunyai beragam pengertian. 


Menurut Para Ahli : 

Micheal Wazler (1997) memandang toleransi sebagai keniscayaan dalam ruang individu dan ruang publik karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexistence) diantara berbagai kelompok masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.

Sementara itu, Heiler menyatakan toleransi yang diwujudkan dalam kata dan perbuatan harus dijadikan sikap menghadapi pluralitas agama yang dilandasi dengan kesadaran ilmiah dan harus dilakukan dalam hubungan kerjasama yang bersahabat dengan antar pemeluk agama.

Dari pengertian diatas maka secara singkat dapat kita simpulkan bahwa "Toleransi adalah sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan yang berbeda dengan pendirian sendiri untuk membangun hidup damai diantara berbagai kelompok masyarakat.

Demikan yang dapat saya jelaskan mengenai apa itu toleransi. Terkait persoalan umat muslim yang menyerukan bagaimana seharusnya memilih pemimpin. Saya mecobanya membahasnya dalam halaman selanjutnya.


Daftar Pustaka : 
http://kbbi.web.id/
http://infodanpengertian.blogspot.co.id

PENTINGNYA KONJUNGSI ATAU KATA PENGHUBUNG


Akhir-akhir ini sering kita jumpai hal yang menarik mengenai penggunaan bahasa, fenomena paling dekat adalah seperti kasus viki, atau kasus yang cukup menguras tenga bagi masyarakat yaitu tentang penistaan agama oleh gubernur DKI Jakarta.

Semuanya membahas tentang bahasa namun pada kesempatan ini saya hanya ingin membahas tentang Konjungsi atau Kata penghubung, kata Penghubung cenderung tidak memili arti penting namun menjadi sangat penting ketika digunakan dalam struktur kalimat, karena bisa sangat mempengaruhi makna dan maksud sebuah kalimat, untuk lebih jelasnya ayo kita bahas bersama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

konjungsi
/kon·jung·si/ n 1 Ling kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat; 2 Astron pertemuan atau papasan semu antara dua benda angkasa atau lebih dalam derajat rasi yang sama;
-- koordinatif Ling konjungsi yang menggabungkan kata atau klausa yang berstatus sama, misalnya dan, tetapi, atau;
-- subordinatif Ling konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat atau menghubungkan bagian dari kalimat subordinatif.


Kata Konjungsi Koordinatif :

Contoh: dan, namun, tetapi, atau, padahal, sedangkan, dan serta.
Contoh kalimat:
1. Ayah membeli Roti, Mentega, dan Selai.
2. Bambang ingin membeli mobil, sedangkan Toki ingin membeli ponsel.
3. Dimas bingung ingin memilih jurusan RPL atau TKJ.
4. Farhan harus melunasi kreditnya atau sepeda motornya akan disita.
5. Ia masih belum lancar berhitung, padahal ia sudah kelas lima SD.
6. Ia meminjam uang lagi, padahal hutang yang sebelumnya belum dilunasi.
7. Yanti ingin kuliah, tetapi ia tidak punya uang.
8. Danu adalah anak orang kaya, tetapi ia tidak sombong.
9. Dita berangkat sekolah menggunakan bus, sedangkan Fani berjalan kaki.
10. Mustofa dan Irfan mendapat teguran dari sekolah karena tiga hari berturut-turut tidak berangkat sekolah tanpa keterangan.

Kata Konjungsi subordinatif :
Contoh:
jangankan …, … pun
baik … maupun
sedemikian rupa … sehingga
bukan hanya …, melainkan
tidak hanya …, tetapi juga
apakah … atau
Contoh kalimat:
1. Jangankan motor, mobil pun bisa ia beli.
2. Baik Lena maupun Reina, keduanya sama-sama pintar bahasa Inggris.
3. Sedemikian rupa bangunan itu dibangun sehingga pondasinya sangat kuat.
4. Vania bingung apakah tetap tinggal di rumah itu atau harus pindah.
5. Rahman tidak hanya bekerja sebagai guru, tetapi juga sebagai pengusaha.
Kata Konjungsi Subordinatif
Konjungsi ini merupakan kebalikan dari konjungsi koordinatif. Fungsinya yaitu sebagai penghubung antar unsur kalimat yang tidak sama kedudukannya.
Contoh: kalau, jika, bila, tanpa, bahwa, walaupun, meskipun, biarpun, yang, sebab, karena, sampai, sehingga, seolah-olah, seperti, andaikan, seandainya, selama, sebelum, sesudah, semenjak, saat, ketika, dengan, dan tanpa.
Contoh kalimat:
1. Jika punya cukup uang, ia akan membeli sepeda motor.
2. Ardi makan bakso tanpa sambal.
3. Meskipun bekerja sebagai pemulung, ia mampu berkurban.
4. Seandainya tidak hujan, Caca akan main ke rumah Sisi.
5. Somad dipecat oleh bosnya karena sering terlambat masuk kerja.
6. Tri sudah bisa mengendarai sepeda sejak usia 5 tahun.
7. Intan belajar selama 1 jam.
8. Robi belajar dengan sungguh-sungguh.
9. Irwan tidur ketika hujan.
10. Erwin membiasakan diri belajar sebentar setelah salat subuh.

Bayangkan jika kalimat kalimat diatas tidak memiliki kata penghubung maka kalimatnya akan menjadi aneh untuk dibaca. Walaupun tidak terlalu berpengaruh dalam kalimat tetapi kita juga harus selektif dalam menghilangkan kata konjungsi karena bisa terjadi salah faham antara maksud pemasang iklan dan pembaca iklan tersebut.
Demikian sedikit penjelsan dari saya semoga bermanfaat. Terimakasih

Referensi : 
http://www.terpelajar.com/
http://kbbi.web.id